Genderang perebutan tahta kepemimpinan dan kekuasaan di Majalengka ditabuh. Pada hari Minggu tanggal 15 September tahun 2013. Rakyat Majalengka kurang lebih 953 ribu akan menggelar pesta demokrasi dalam menentukan pemimpinnya. Ada 4 pasangan calon yang akan bertarung memperebutkan posisi nomor satu di kota angin ini. Tiga pasang kandidat dari partai politik, sedangkan satu pasang calon dari jalur independen. Tentunya ada beragam motif tujuan calon mengincar kursi kekuasaan tersebut. Tapi yang muncul ke permukaan, rata-rata ingin mensejahterakan rakyat. Jargon tersebut begitu mudah diucapkan, tanpa bisa dipertanggung jawabkan, karena realitasnya jauh panggang daripada api. Janji hanya sebas diutarakan kandidat ketika memiliki keinginan. Setelah terpilih, biasanya rakyat dibuang dan ditelantarkan. Faktanya memang seperti itu. Tapi menipu rakyat ketika musim kampanye seolah menjadi barang halal. Karena yang terpenting terpilih dulu, persoalan janji dan program kerja urusan nanti.
Di dalam pertarungan Pilbup Majalengka ini, ada tiga pasangan calon yang bakal beradu sengit berebut dukungan rakyat. Selain incumbent, Sutrisno-Karna “Suka”, ada pasangan H. Abah Encang-H. Tio Indra Setiadi “Hati” dan duet H. Apang Sopandi-Nasir “Sopan”. Ketiga pasangan ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.Bagi “Suka” sendiri kelebihanya terkait keberhasilan pembangunan selama 5 tahun memimpin. Isu kampanye ini akan terus didengungkan kepada masyarakat. Itu ditandai dengan bukti pembangunan fisik yang terlihat langsung oleh masyarakat. Di antaranya pelebaran Jl. KH. Abdul Halim Kota Majalengka, yang selama ini tidak terwujud oleh beberapa bupati sebelumnya. “Suka” akan menegaskan, meski anggaran itu bersumber dari APBD Provinsi dan sudah direncanakan jauh sebelumnya, tapi yang mampu mewujudkan semua itu pasangan “Suka”. Maka dari itu, ia akan beralasan kalau hanya sekedar rencana (omongan) semua orang bisa. Tapi yang terpenting realisasinya. Tentunya masih banyak keberhasilan Suka lainnya, seperti perbaikan jalan, jembatan, penataan kota, dan keberhasilan non fisik lainnya. Kesimpulannya, kampanye “Suka” akan selalu mengatakan, yang lain baru mengumbar janji, kami memberi bukti. Gaya kampanye ini percis dilakukan Ahmad Heriyawan pada Pilgub Jabar kemarin. Sedangkan Rieke-Teten mengemborkan isu perubahan dan anti korupsi. Situasi semacam ini hampir sama terjadi di Pilkada Majalengka kali ini.
Bagi “Hati” dan “Sopan” sebagai penantangnya, tentunya tidak akan terlena begitu saja. Apalagi timsesnya didominasi para anggota DPRD Majalengka yang tahu percis dosa politik Incumbent. Maka dari itu, untuk menumbangkan “Suka”, harus diserang mengenai kebijakannya yang tidak populis. Termasuk gaya kepemimpinan Bupati Sutrisno yang dianggap arogan dan kerap menyakiti kelompok masyarakat dalam setiap pernyataanya. Isu ini langsung dijadikan propoganda yang banyak dialami dan dirasakan hampir semua orang. Sehingga timses Hati dan Sopan tidak terlalu menguras energi untuk menghembuskan isu semacam ini. Contohnya saja, masalah kekecewaan guru dan kasus Aof. Ini bisa dikatakan jurus strategi meminjam tangan seseorang untuk membunuh. Di tengah kebencian itu, disadari atau tidak, rival politik memanfaatkan keadaan itu, agar kebencian terhadap “Suka” terus menggelora. Efeknya diharapakan mampu mencuci otak masyarakat, agar tidak memilih pasangan Suka Jilid II kembali. Akhirnya, hal itu dapat menenggelamkan isu keberhasilan pembangunan yang kerap diutarakannya. Melihat konstelasi perpolitikan ini yang diuntungkan pasangan “Hati” dan “Sopan”, Sedangkan “Yes” yang dianggap sebagai kuda hitam tidak pernah diperhitungkan sama sekali.
Di dalam pertarungan Pilbup Majalengka ini, ada tiga pasangan calon yang bakal beradu sengit berebut dukungan rakyat. Selain incumbent, Sutrisno-Karna “Suka”, ada pasangan H. Abah Encang-H. Tio Indra Setiadi “Hati” dan duet H. Apang Sopandi-Nasir “Sopan”. Ketiga pasangan ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.Bagi “Suka” sendiri kelebihanya terkait keberhasilan pembangunan selama 5 tahun memimpin. Isu kampanye ini akan terus didengungkan kepada masyarakat. Itu ditandai dengan bukti pembangunan fisik yang terlihat langsung oleh masyarakat. Di antaranya pelebaran Jl. KH. Abdul Halim Kota Majalengka, yang selama ini tidak terwujud oleh beberapa bupati sebelumnya. “Suka” akan menegaskan, meski anggaran itu bersumber dari APBD Provinsi dan sudah direncanakan jauh sebelumnya, tapi yang mampu mewujudkan semua itu pasangan “Suka”. Maka dari itu, ia akan beralasan kalau hanya sekedar rencana (omongan) semua orang bisa. Tapi yang terpenting realisasinya. Tentunya masih banyak keberhasilan Suka lainnya, seperti perbaikan jalan, jembatan, penataan kota, dan keberhasilan non fisik lainnya. Kesimpulannya, kampanye “Suka” akan selalu mengatakan, yang lain baru mengumbar janji, kami memberi bukti. Gaya kampanye ini percis dilakukan Ahmad Heriyawan pada Pilgub Jabar kemarin. Sedangkan Rieke-Teten mengemborkan isu perubahan dan anti korupsi. Situasi semacam ini hampir sama terjadi di Pilkada Majalengka kali ini.
Bagi “Hati” dan “Sopan” sebagai penantangnya, tentunya tidak akan terlena begitu saja. Apalagi timsesnya didominasi para anggota DPRD Majalengka yang tahu percis dosa politik Incumbent. Maka dari itu, untuk menumbangkan “Suka”, harus diserang mengenai kebijakannya yang tidak populis. Termasuk gaya kepemimpinan Bupati Sutrisno yang dianggap arogan dan kerap menyakiti kelompok masyarakat dalam setiap pernyataanya. Isu ini langsung dijadikan propoganda yang banyak dialami dan dirasakan hampir semua orang. Sehingga timses Hati dan Sopan tidak terlalu menguras energi untuk menghembuskan isu semacam ini. Contohnya saja, masalah kekecewaan guru dan kasus Aof. Ini bisa dikatakan jurus strategi meminjam tangan seseorang untuk membunuh. Di tengah kebencian itu, disadari atau tidak, rival politik memanfaatkan keadaan itu, agar kebencian terhadap “Suka” terus menggelora. Efeknya diharapakan mampu mencuci otak masyarakat, agar tidak memilih pasangan Suka Jilid II kembali. Akhirnya, hal itu dapat menenggelamkan isu keberhasilan pembangunan yang kerap diutarakannya. Melihat konstelasi perpolitikan ini yang diuntungkan pasangan “Hati” dan “Sopan”, Sedangkan “Yes” yang dianggap sebagai kuda hitam tidak pernah diperhitungkan sama sekali.

web blog boCiL pOsLe 

Post a Comment