Ketika membaca riwayat perjuangan K. H. Abdul Halim, yang ditulis oleh Saudara Miftahul Falah, S. S. ini, sebenarnya apa dan bagaimana per-juangan oleh ulama kelahiran Majalengka tanggal 26 Juni 1887 ini. Semasa hidupnya, K. H. Abdul Halim telah me-mimpin dan melakukan perjuangan melalui bidang politik, ekonomi, dan pendidikan. Perjuangan pada masa penjajahan Belanda, dilakukan melalui Persjarikatan Oe-lama (PO), Sarekat Islam, dan PII. Pemikiran K. H. Abdul Halim yang sangat berharga adalah bagaimana membina keselamatan dan kesejahteraan umat dengan melakukan perbaikan yang meliputi delapan bidang (Al-Islah As-Samaniyah), yaitu: akidah, ibadah, pendidikan, keluarga, adat-kebiasaan, hubungan masyarakat (sosial), pereko-nomian, dan perbaikan umat.
H. Abdul Halim beserta ketiga kawannya itu selalu membicarakan tulisan-tulisan para pemikir pembaharu khususnya dari Jamaludin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Mereka memandang bahwa kondisi di Indonesia akan berubah apabila masalah pendidikan dapat segera diperbaharui. Kelak di kemudian hari, mereka secara ak-tif berjuang memperbaiki pendidikan di bawah penga-ruh para pemikir pembaharu Islam tersebut. Mas Man-sur aktif di Muhammadiyah, Abdul Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Ulama bersama-sama dengan K. H. Hasyim Asy’ari, dan Ahmad Sanusi mendirikan Al-Ittihadiyatul Islamiyyah (Noer, 1991: 82). H. Abdul Ha-lim kemudian mendirikan Perserikatan Ulama (PU) yang bergerak di bidang pendidikan. Walaupun demikian, H. Abdul Halim tidak melepaskan keyakinannya terhadap
Mazhab Syafi’i meskipun hubungannya lebih dekat ke kalangan modern daripada kalangan tradisi (Noer, 1991: 89). Tidak hanya itu, selama di Mekkah pun H. Abdul Halim bergaul secara aktif dengan orang-orang Cina muslim dan memanfaatkan pergaulannya itu untuk mempelajari bahasa Cina. Sangat dimungkinkan dalam pergaulannya itu, H. Abdul Halim tidaklah terlalu kesulitan karena telah memiliki pengetahuan dasar bahasa Cina sebagai akibat pergaulannya dengan anak-anak keturunan Cina ketika masih kecil (Jalaludin, 1990: 376; Wanta, 1986: 2).
Meskipun hanya tiga tahun menuntut ilmu di Mekkah, tetapi berhasil memberikan pengaruh yang be-sar kepada dirinya untuk berjuang memperbaiki keadaan umat Islam di tanah airnya. Pada waktu itu, keadaan kaum mislimin sangat diprihatinkan oleh H. Abdul Halim, khususnya di bidang ekonomi dan pendidi-kan. Dengan bekal ilmu yang dimilikinya dan cita-citanya mewujudkan keadaan umat yang jauh lebih baik, H. Ab-dul Halim mulai melangkah menggapai cita-citanya: menciptakan kondisi umat yang seimbang antara kehi-dupan duniawi dan ukhrowi.
Sebagai penganjur, K. H. Abdul Halim tidak hanya seba-tas mengajak secara lisan, tetapi juga memberikan con-toh dengan mendirikan koperasi di lingkungan Persjari-katan Oelama. Ia juga kemudian mendirikan dan meng-hidupkan kembali pabrik tenun sejak tahun 1939 (pa-brik ini pernah didirikan oleh hayatul qulub tahun 1912). Pabrik tenun ini dikelola melalui koperasi oleh Persa-toean Goeroe Persjarikatan Oelama (PGPO). Selain itu, PGPO juga memberikan pembinaan kepada masyarakat tentang perkoperasian (Jalaludin, 1990: 127).

web blog boCiL pOsLe 

Post a Comment